 Komunitas motocross menunjukkan perkembangan pesat, terlebih dengan adanya beberapa sekolah balap khusus motocross yang dikelola para crosser senior. Atau juga program khusus dari IMI. Dari sini, calon crosser diberi bekal sebelum menuju karier sebagai profesional. Tetapi mungkin saja banyak orang awam belum tahu bagaimana langkah-langkah untuk menjadi seorang crosser. Lihat Umur Berbagai cara bisa ditempuh, seperti bergabung dengan klub-klub motor untuk mencari tahu ke mana harus menyalurkan hasrat bermotocross. Atau langsung mengikuti program khusus dalam IMI Racing Academy bidang motocross.
Beberapa sekolah motocross sudah dibuat. Seperti dilakukan Denny Orlando lewat Orlando Riding Forum di Solo, Irwan Ardiansyah dengan Irwan Ardiansyah Motocross Academy di Yogyakarta dan Aep Dadang mendirikan Aep Dadang Motocross Training di Soreang, Bandung. Meski beda markas, mereka punya persyaratan sama terhadap calon crosser yang ingin bergabung. Paling penting memiliki motor dan punya teknik dasar mengendarai motor. “Teknik dasar ini penting, untuk mengetahui safety guna mengurangi risiko cedera,” kata Denny, juara nasional 2007 dan 2008. “Di tempat saya juga diajari teknik pengetahun mesin, seperti bongkar mesin agar mereka bisa mandiri,” timpal Aep, juara nasional 4 kali. Dalam menampung calon crosser, mereka melihat kondisi yang bersangkutan. Misal mau ikut kelas apa. Denny membuka kelas 50 cc hinga eksekutif, memiliki 20 anak didik yang aktif berkompetisi di berbagai kelas. Sedangkan Aep membina 5 crosser di kelas 50 cc hingga 125 cc. Sementara Dian melatih 10-20 crosser yang aktif di kelas 65 cc sampai 250 cc. Dari segi umur, mulai kategori pemula biasanya berusia 5 tahun pakai motor 50 cc. “Usia 9-12 tahun naiknya motor 60 cc, 12-15 tahun 85 cc dan 15 tahun ke atas motornya 125 cc,” terang Johnny Pranata, instruktur IMI Racing Academy. Selain teori dan praktik, semua pemilik sekolah juga menyediakan fasilitas latihan dan instruktur. Denny punya tempat latihan di Goro Assalam, Solo, Aep di Soreang, Bandung dan Irwan (akrab disapa Dian) di Yogyakarta. Sedangkan IMI Racing Academy di Pondok Cabe, Tangerang. Para pemilik sekolah itu juga punya mekanik sendiri dan menerima servis motor dari luar. Meski begitu Dian lebih memprioritaskan motor untuk kalangannya. Biaya Aep bilang motocross bukan olahraga murah, karena motornya khusus. Jadi jangan kaget jika harganya mahal. “Motor bekas Special Engine (SE) 65 cc saja Rp 40 jutaan. Motornya KTM, harga itu plus perlengkapan balap. Kalau baru 65 cc itu Rp 58 juta,” papar Denny. “Kalau motor buatan Jepang bisa lebih murah,” imbuh Dian, juara nasional 7 kali. “Kalau terlalu mahal, bisa beli motor buatan Cina. Yang 50 cc harganya Rp 7 jutaan, kalau 90 cc Rp 12 juta,” saran Zainal Idris yang kedua anaknya mengikuti pendidikan di IMI Racing Academy pakai motor KTM. Begitupun soal pakaian balap dan aksesorinya, bisa pilih sesuai kemampuan, dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Kalau pakaian balap impor harganya sekitar Rp 10-20 juta, buatan lokal hanya 5-10 juta,” kata Dian. Beragam pilihan perlengkapan balap motocross bisa didapatkan di tokonya Dian di Yogyakarta, juga markas AHRS milik Asep Hendro di kawasan Depok, Jawa Barat. Untuk mengurangi biaya pengeluaran, Denny dan Dian menyiapkan mess untuk anak didiknya. Agar tak perlu bolak-balik selama mengikuti latihan, apalagi peserta yang berasal dari luar pulau. Nah, kalau sudah punya pandangan, silakan bergabung. |
|
|